Wednesday, October 15, 2008

Keladi Tikus: Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker



Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya "keladi tikus".
Ia terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif
singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang
profesor ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh
dunia.

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
"keladi tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman
obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan
berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi
maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini hanya tumbuh di semak yang tidak
terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di
Pulau Jawa," kata Drs Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan
tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun
1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS,
PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,
Malaysia.

Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu
ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia baru,
Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini
pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus
dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui
operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk
membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig
(rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontok an rambut,
selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan", jelas Patoppoi. Selama
mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi
mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat
itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,"
ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko
obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku
mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan
Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung
saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak
jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia," kenang
Patoppoi sambil tersenyum.

Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat
Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman
tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat,
familinya di Pekalongan, Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata,
mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman
tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di
Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa
tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak
ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya,
dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses
tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk
diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni
Patoppoi di Buduran,Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.

"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di
pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut
tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat
itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami
penurunan efek samping kemoterapi yang dijalani nya. Rambutnya berhenti
rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan
ibu sayapun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat
tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil
pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter
di Jakarta," kata Patoppoi.

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan
pada isteri nya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan
dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan
mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung pengobatan
dukungan tersebut dan menyarankan agar mengembangkan nya. Apalagi melihat
keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang
sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali
diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para
dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan
tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr. Teo
melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat
di Jawa dan mengajak Dr.Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di
Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka
tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,"
sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia,
Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan
berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi
sempat tercengang. Data- data rinci mengenai gejala, penderitaan,
pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu
pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku
tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien
tersebut.

"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar
Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam
sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada
sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl.
KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah
penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter
mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil
menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah
membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama
kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu
dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo
masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui
Dr.Teo secara langsung. Atas bantuan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr.Teo
di Penang, Malaysia.

Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat
penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan
memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer,
Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan
dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang
melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar
Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka
secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga
sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan
Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-
4894754, dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut
secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam
bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman
lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit
yang diderita," kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita
harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala enderita dan
akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi
disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan
mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia,
sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar
biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang
kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjang an waktu pembayaran."
tambahnya. Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh
salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker
ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat
sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien
pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan
keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah
memiliki reputasi.

Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami
kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada
pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri
dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan
kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak di temui berbagai efek yang
dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.

Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan
ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya
mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan
memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter- dukun. "Disinilah gap
yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter
tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan
memberi kan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat
putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut
mendapat kanker paru-paru.

Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut
mengkonsumsi pil dan the dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
peredaran darah penderita dan mengatasi keter gantungan pada narkoba
tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi
tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,"
sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan
kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak
mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat
kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah
disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker
payudara, paru-paru, usus besar- rectum, liver, prostat, ginjal, leher
rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan
hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan
milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi
dunia kesehatan

Semoga bermanfaat.

No comments: